Social Share Icons

MANFAAT DARI TOLERANSI ANTAR UMAT BERAGAMA


Manusia memang diciptakan sebagai makluk individu yang juga merupakan sebagai makluk sosial. Sebagai makluk sosial, manusia juga diwajibkan mampu berinteraksi dengan individu / manusia lain dalam rangka memenuhi kebutuhan.
Dalam menjalin kehidupan sosial bermasyarakat, seorang individu juga akan dihadapkan dengan suatu kelompok – kelompok yang berbeda dengan dirinya. Salah satu perbedaan itu adalah kepercayaan / agama dan juga suku.
Dalam menjalin kehidupan sosial, tidak bisa dipungkiri bahwa dalam dinamika kehidupan akan ada suatu gesekan  yang terjadi antar kelompok masyarakat. Baik yang berkaitan dengan agama atau juga suku. Dalam rangka menjalin persatuan dan kesatuan dalam masyarakat, maka akan diperlukan sikap saling menghormati dan juga melindungi sehinga tidak terjadi gesekan – gesekan yang dapat menimbulkan pertikaian dan juga peperangan.
toleransi antar umat beragama
Hal ini juga tertera dalam Undang – Undang Dasar 1945 yang berisi bahwa negara juga menjamin kemerdekaan tiap -tiap warganya untuk memeluk agama dan kepercayaannya masing – masing. Hal ini juga menegaskan bahwa kita sebagai warga negara sudah sewajarnya saling menghormati antar hak dan kewajiban yang ada diantara lingkungan kita sehingga keutuhan dan kerukunan negara dan juga menjunjung tinggi sikap toleransi antara suku dan umat beragama.
Perwujudan toleransi dalam kehidupan sehari – hari contohnya seperti kita memahami setiap perbedaan, sikap saling tolong menolong antara umat beragama dan juga tidak membeda bedakan suku, ras, agama serta budaya yang melekat dalam diri orang tersebut.
Jika dilihat dari segi manfaat, toleransi beragama memang banyak sekali jika kita senantiasa menerapkannya. Akan tetapi dalam melakukannya kita harus dengan sewajarnya dan tidak bisa berlebihan karena hal itu akan menyinggung perasaan orang lain dan justru berdampak merugikan terhadap diri kita sendiri nantinya.

Gus Mus: Hindari Politisasi Agama

KH Mustofa Bisri (Gus Mus) meminta politikus tidak menyeret agama untuk kepentingan politik praktis dan merebut kekuasaan saja. Karena hal itu dapat merugikan agama Islam sendiri, apalagi digambarkan pembuat kerusuhan dan haus kekuasaan.

Sekarang banyak politikus yang menarik-narik agama ke politik. Allah dibawa-bawa ke ranah kampanye. Suriah dulu rusak karena agama digunakan untuk kepentingan politik.

Hal itu disampikan Gus Mus pada acara Haul ke-3 KH Aziz Manshur di Pesantren Pacul Gowang, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, Senin (6/11) kemarin.

"Dalil tidak digunakan pada tempatnya. Bisa-bisanya surat Al Maidah ditarik ke politik, perkara lima tahun sekali kok dibelain sampai kayak mau kiamat, padahal lima tahun lagi akan ada pemilihan baru," katanya.

Gus Mus juga menyoroti banyaknya politikus yang menggunakan dalil-dalil Al-Qur'an untuk menjatuhkan lawan politik. Ayat suci tersebut digunakan untuk membenarkan tindakannya. Terkesan memaksakan dalil. Bahkan karena saking fanatiknya pada pilihan politik sampai-sampai merusak persaudaraan. Kakak dan adik tidak lagi akur. Sama tetangga tidak berteguran karena beda pilihan.

"Jadi saya tidak terlalu percaya kalau politikus suka dalil-dalil, kepentingan sesaat. Bahayanya kalau seandainya dalil lima tahun lalu berbeda dengan tahun sekarang. Karena keadaan politik, padahal jejak digital itu kejam. Malah kelihatan tidak konsisten, dulu mengharamkan tapi sekarang membolehkan," ujar Gus Mus.

Gus Mus pun mengaku heran dengan kelompok Islam gerakan kembali ke Al-Qur'an dan Hadits. Kelompok ini merasa paling benar dan teriak ke sana ke mari merasa paling gagah. Mereka berdemo-demo seolah paling benar. Ia berpendapat gerakan ini subur juga karena sekarang orang waras banyak yang mengalah. Ini harus dibalik sekarang, orang waras harus bicara.

"Kok ya ada gerakan kembali ke Al-Qur'an dan Al-Hadits tapi Al-Qur'an yang dimaksud adalah Qur'an terjemahan Departemen Agama (Depag). Padahal bahasa Indonesia itu tidak bisa sempurna memaknai bahasa Al-Qur'an. Karena keterbatasan kosa kata. Bersyukurlah santri yang masih belajar di pesantren," beber Gus Mus.

Oleh karenanya, Gus Mus usul untuk melawan gerakan kembali ke Al-Qur'an dan Hadits dengan ngaji kepada para ahli di pesantren. Ditambah lagi dengan memperbanyak kegiatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Karena kalau tidak begitu, orang tidak paham agama secara mendalam akan berfatwa terus.

"Maulid nabi dan Haul kalau bisa setiap malam, biar tidak lali (lupa-red) sama kebaikan nabi dan kiai. Biar tidak ada lagi istilah nabi dawuh ngulon (barat), orangnya malah ngetan (timur). Sudah salah, ditambahi takbir lagi. Kembali ke Al-Qur'an itu ya ngaji, kembali ke pesantren," tandas Gus Mus. (Syarif Abdurrahman/Muiz)



http://www.nu.or.id

GP Ansor Jelaskan Soal Viral Pembakaran Bendera Tauhid


GP Ansor Jelaskan Soal Viral Pembakaran Bendera TauhidKetua Umum GP Ansor, Yaqut Cholil Qoumas (dok. detikcom)
Jakarta - Di media sosial beredar video dengan keterangan oknum anggota Banser membakar bendera tauhid. GP Ansor, induk dari Banser, menyatakan pembakaran itu sebenarnya dilakukan pada bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) sekaligus untuk menjaga kalimat tauhid.

Peristiwa pembakaran itu terjadi di Garut, Jawa Barat. Ketua Umum PP GP Ansor Yaqut Cholil Qoumas langsung menelusuri video tersebut. Pria yang akrab disapa Gus Yaqut itu mengatakan anggotanya melihat bendera tersebut sebagai simbol bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), ormas yang sudah dibubarkan oleh pemerintah.

"Saya sudah cek teman-teman di Garut, tempat di mana pembakaran itu terjadi. Sudah saya tanyakan juga ke pengurus di sana, teman-teman yang membakar itu melihat bendera tersebut sebagai bendera HTI," ujar Yaqut saat dimintai konfirmasi, Senin (22/10/2018).
Yaqut memiliki perspektif sendiri terkait peristiwa ini. Dia mengatakan pembakaran yang dilakukan itu untuk menghormati dan menjaga kalimat tauhid.

Sebagaimana diketahui, dalam bendera HTI tertulis kalimat tauhid di dalamnya. Sebagai organisasi, HTI sendiri sudah dibubarkan oleh pemerintah karena dianggap mempunyai paham anti-Pancasila.

Dia memberi contoh cara yang sama akan dilakukan jika menemukan lembaran Alquran. Hal itu dilakukan agar tak terinjak-injak dan terbuang di tempat yang tak semestinya.

"Saya mencoba memahami dari sudut pandang yang berbeda bahwa apa yang dilakukan teman-teman itu adalah upaya menjaga kalimat tauhid. Jika bukan bendera yang ada tulisan tauhidnya, bisa jadi, oleh mereka tidak dibakar, tetapi langsung buang saja ke comberan," ujarnya.

"Membakar bendera yang ada tulisan kalimat tauhid tersebut, hemat saya, teman-teman ingin memperlakukan sebagaimana jika mereka menemukan potongan sobekan mushaf Alquran. Mereka akan bakar sobekan itu, demi untuk menghormati dan menjaga agar tidak terinjak-injak atau terbuang di tempat yang tidak semestinya," sambung Yaqut menjelaskan.

Terkait peristiwa ini, Yaqut mengimbau anggotanya untuk tidak lagi melakukan pembakaran. Dia meminta anggotanya menyerahkan ke aparat keamanan jika menemukan bendera serupa.

"Saya sudah peringatkan ke kader di bawah, untuk tidak lagi melakukan pembakaran bendera apapun. Jika memang menemukan bendera-bendera tersebut, sudah saya perintahkan juga untuk diserahkan kepada aparat keamanan saja. Tidak boleh lagi ada pembakaran-pembakaran seperti kejadian di Garut itu, meskipun kami memahami kenapa kader melakukan tindakan tersebut," ungkap dia.

Ketua GP Ansor Jawa Barat Deni Haedar menjelaskan hal senada. Dia mengatakan, aktivitas membakar itu untuk melindungi ayat suci dari aktivitas penggunaan yang tidak semestinya.

"Kita minta ke pimpinan ansor Garut untuk klarifikasi sehingga dapet informasi yang valid. Info yang berkembang iya di Garut. Dalam tradisi kami untuk menjadi kesucian kalimat-kalimat thayyinah atau tulisan ayat-ayat suci dari kemungkinan dihinakan ya dibakar. Misal kalau ada mushaf al Quran sobek atau kitab-kitab sobek, daripada keinjak maka itu dibakar," ujar Deni.

"Karena kita tidak tahu dari mana barangnya. Kalau didapat berceceran misalnya tentu dibakar adalah pilihan yang baik daripada keinjak-injak. Urusan lambang organisasi terlarang sudah ada instruksi dari pimpinan pusat Ansor untuk diserahkan ke aparat negara. Secara organisatoris kita akan investigasi, setiap yang melanggar aturan organisasi tentu akan ditindak," sambungnya. (jbr/fjp)

Makna Resolusi Jihad Menurut Bupati Tegal

Makna Resolusi Jihad Menurut Bupati Tegal

Makna Resolusi Jihad Menurut Bupati Tegal
Bupati Tegal (tengah) di acara Kirab Resolusi Jihad
Tegal, NU Online
Pelaksana Tugas Bupati Tegal Hj Umi Azizah mengatakan, adanya kirab resolusi jihad mengandung makna bahwa pemerintah RI tidak hanya mengajak seluruh Warga Negara Indonesia untuk mengenang jasa para alim ulama, para kiai, dan santri terhadap lahirnya Negara kita tercinta Indonesia. 

Hal itu dikatakan Hj Umi Azizah saat menyambut kirab Resolusi Jihad RMI NU Kabupaten Tegal di Pendopo Kecamatan Balapulang, Jumat (19/10).

"Yang penting adalah mengajak seluruh komponen masyarakat Indonesia, bahwa Indonesia tidak akan mungkin lahir Ketika tidak ada kebersamaan dari seluruh komponen yang ada termasuk di dalamnya jika tidak ada para alim, ulama dan santri," tandasnya.

Untuk itu, kata Umi, kewajiban kita terhadap perjuangan para pendahulu. Yakni Mari kita terus bersatu padu, bahu membahu sesuai kemampuan kita, merawat dan menjaga hasil perjuangan yang tidak lain adalah mengamankan dan menjaga kondusifitas NKRI.

"Karena keamanan adalah pilar untuk mewujudkan cita-cita mulia para pendiri bangsa yang tercantum dalam Pancasila dan UUD 1945," ujarnya

Bupati yang juga Ketua PC Muslimat NU Kabupaten Tegal itu berharap, dengan resolusi jihad ini, semangat kita dalam berkebangsaan dan bernegara semakin kokoh dan kuat. Ghirah semangat kita untuk mengibarkan cita-cita mulia para alim ulama semakin meningkat. Mudah-mudahan ke depan dapat kita wujudkan bersama.

"Indonesia hebat Indonesia maju. Dengan santri Insyaalloh Indonesia kuat. Bersama santri Indonesia semakin maju," pungkasnya.

Hadir dalam kesempatan itu Ketua RMI NU Kabupaten Tegal KH Syamsul Arifin, Plt Camat Balapulang Fakihurrokhim, Muspika Balapulang, Pengurus MWC NU Kecamatan Balapulang, pengurus badan Otonom dan ratusan nahdliyyin setempat. (Nurkhasan/Muiz)

Habib Umar: Pertemuan Lintas Agama, Solusi Masalah Umat

Habib Umar: Pertemuan Lintas Agama, Solusi Masalah Umat

Rozali, NU Online 
Jakarta, NU Online
Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz atau yang lebih dikenal dengan panggilan Habib Umar, menyatakan bahwa pertemuan para tokoh agama itu sangat penting. Sebab, banyak persoalan-persoalan mendasar tentang umat manusia yang bisa dibicarakan sehingga mendapatkan penyelesaian.

"Pertemuan ini sangat penting karena ini merupakan di dalamnya insyaallah menjadi penyelesaian berkenaan tentang hal-hal problem-problem umat manusia," Kata Habib Umar dalam acara Dialog Peradaban Lintas Agama yang diselenggarakan atas kerja sama antara Pengurus Syuriyah PBNU, Majelis Muwasholah dan Majelis Dzikir Hubbul Wathon di Hotel Aryaduta, Jakarta Pusat, Sabtu (13/10).

Kegiatan yang mengusung tema  "Memperkokoh Persatuan dan Kesatuan Bangsa atas Dasar Rahmat Kemanusiaan" ini dihadiri sejumlah tokoh agama, seperti KH Afifuddin Muhajdir, Yeni Wahid, KH Mustofa Aqil Siroj, Romo Magnis Suseno, Pdt Martin Lukito Sinaga, dan Bikhu Dhammasubho Mahathera.

Menurut Habib Umar, setiap agama telah mengatur tentang peran dan tanggung jawab manusia dalam menjalani kehidupan di antara sesama.

"Kita semua dengan beragam agama, dari agama yang berbeda-beda dan dipadukan dengan hal-hal pokok dan dasar, yang mempersatuakan kita semua dan mempersatukan setiap orang-orang yang berakal," Ucap habib yang juga pengasuh Pesantren Darul Musthafa Tarim, Hadramaut, Yaman itu.

Oleh sebab itu, semua umat manusia dari berbagai latar belakang agama diharapkan agar menjaga persatuan sehingga stabilitas dan keamanan tetap terjaga. Sebab, katanya, jika umat tidak bersatu, maka dikhawatirkan ada provokasi atau bujukan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab sehingga berdampak pada perpecahan.

"Setiap orang yang berakal setuju bahwa mencurahkan pemikiran untuk menjaga keamanan dan kedamaian yang akan membawa kebaikan," jelasnya. (Husni Sahal/Ahmad Rozali)

Rasulullah tak Pernah Ajarkan Radikalisme






Abdul Muiz, NU Online | Ahad, 07 Oktober 2018 09:00

Rasulullah tak Pernah Ajarkan Radikalisme


Jakarta, NU Online
Ketua PCNU Jakarta Utara KH Ali Mahfudz mengatakan bahwa Ahlussunah wal Jamaah tidak membenarkan tindakan radikalisme. Sebab, Nabi Muhammad dan para sahabat tidak pernah mengajarkan radikalisme.

"Saya tidak setuju kelompok radikalisme mengatakan Aswaja karena Aswaja mengikuti Nabi dan para Sahabat. Sementara Nabi dan para sahabat tidak pernah mengajarkan kekerasan," kata Kiai Ali di Hotel Nam, Jakarta Utara, Sabtu (6/10).

Menurut Kiai Ali, pada peristiwa Fathu Makkah (pembebasan Kota Makkah), Rasulullah melindungi orang-orang yang tidak seakidah, seperti penganut agama Nasrani dan Yahudi, Rasulullah tidak pernah memaksakan ajaran-ajaran Islam agar dianut mereka dan tidak mengenakan zakat, tetapi diganti dengan membayar jizyah atau pajak.

"Artinya, Islam di zaman nabi ini sangat toleran," jelasnya.

Sementara akhir-akhir ini lanjutmya, toleransi yang merupakan salah satu prinsip penting dalam Islam mulai hilang dari pemahaman umatnya. Oleh sebab itu, NU tidak boleh berhenti menanamkan pentingnya toleransi untuk membendung radikalisme.

"Ini tugas NU struktur, pengurus agar lebih memperkenalkan konsep-konsep NU ke depan, mengenalkan Aswaja ala Thariqah an-Nahdhiyah kepada masyarakat," ucapnya.

Aswaja ala Thariqah an-Nahdhiyah mempunyai empat prinsip dasar, yakni tawassuth (moderat), tawazzun (seimbang), i'tidal (adil), dan tasammuh (toleran) yang harus dipegang oleh orang NU. (Husni Sahal/Muiz)

http://www.nu.or.id/post/read/96876/rasulullah-tak-pernah-ajarkan-radikalisme-


#muslimsejati

Islam Agama cinta damai


Sebelum membahas islam sebagai agama yang damai, setiap individu hendaknya mengetahui hakikatnya sebagai manusia itu apa. Hakikat manusia adalah didalam Al Qur,an di temukan tiga kosakata yang berbeda dengan makna manusia. akan tetapi mempunyai subtansi yang berbeda.


1.       Basyar
Berhubungan dengan sifat biologis, yang berarti manusia makan dan minum.
2.       Insan
Disebutkan dalam Al Qur’an sebanyak 65 kali yang mana Insan berarti makhluk yang menjadi dan terus bergerak maju ke arah kesempurnaan.
3.       An Nas
Disebutkan dalam Al Qur’an sebanyak 240 kali yang mana Al Nas ini menunjuk kepada manusia sebagai ,akhluk kolektif.

Manusia yang paham akan hakikatnya sebagai manusia tidak akan membahayakan manusia lainnya. Baik dengan pola berpikir, berperilaku, maupun sadar dalam berinteraksi sosial. maka akan salah ketika manusia tersebut menganut ajaran sesat yang jauh dari ajaran islam sesungguhnya


Perbedaan keyakinan tidaklah menyurutkan rasa individualis seseorang atas keyakinan yang menurutnya agama yang paling benar. Keyakinan dalam beragama hendaknya menimbulkan konflik atau perceahan yang menjadikan negara Indonesia jauh dari menjunjung tinggi nilai-nilai nasionalisme..
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa dengan menjunjung tinggi persaudaraan meskipun berbeda keyakinan maka tidak akan adanya konflik dan perpecahan. Sehingga jadilah Indonesia negara yang damai dan tentram. Maka manusia harus sadar hakikatnya sebagai manusia apa. sehingga tidak salah langkah dalam setiap perbuatan yang dilakukan.
#muslimsejati #kontranarasi